RASULULLAH SAW adalah Rasul pilihan Allah yang diutuskan kepada ummat manusia untuk membimbing mereka kepada hidayah Allah; berbuat yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta beriman kepada Allah. Sebelum kedatangan Rasulullah SAW, manusia berada di ambang kehancuran lantaran kehidupan cara Jahiliyyah yang menyebabkan tertegaknya tamadun ketika itu telah hancur dan musnah sama sekali.
Seorang moralis Barat bernama J.H Denison dalam bukunya Emotion as the Basic of Civilization, ada menyebut; ”Tamadun adalah umpama suatu pohon rendang yang bayang-bayangnya meliputi seluruh dunia; sekarang ia telah terhoyong hayang, dimakan reput hingga ke akar umbinya. Dan di tengah-tengah kerosakan yang sebegitu meluas lahirlah seorang insan yang bakal menyatukan seluruh alam.”
Ketika kemanusiaan sedang berada diambang kehancuran dan kemusnahan, Allah mengutuskan Nabi Muhammad SAW untuk membangkitkannya semula dan mengeluarkannya dari kegelapan kepada cahaya. Firman Allah SWT yang bermaksud;
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi (terhadap umatmu), dan pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman) serta pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar). Dan juga sebagai penyeru (umat manusia seluruhnya) kepada ugama Allah dengan taufiq yang diberiNya; dan sebagai lampu yang menerangi.
(Surah Al-Ahzaab ayat 45-46)
Rasulullah SAW memecah belenggu-belenggu jahiliyyah dan khurafat dan mengajak manusia kepada pengabdian yang akan membebaskan mereka daripada segala bentuk ikatan lain. Baginda mengembalikan kepada mereka erti hidup yang sebenarnya. Firman Allah SWT dari Surah al-A’araaf ayat 157 yang bermaksud;
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Rasulullah SAW Sebagai Pendidik
Rasulullah SAW didatangkan ketika dunia ini diumpamakan sebuah rumah yang telah dilanda gempa bumi yang dahsyat. Semua yang berada di dalamnya menjadi tunggang langgang, menyebabkan barang-barang berselerakan di sana sini.
Dalam suasana kekusutan ini, manusia lupakan dirinya. Dia sudah hilang harga diri hinggakan dia tidak segan silu lagi bersujud pada pokok, batu dan air-sujud pada segala kejadian alam yang tidak berkuasa. Kebijaksanaan tidak berguna lagi. Fikirannya menjadi terlalu kusut dan aqalnya menjadi terlalu serong hinggakan dia tidak lagi mampu membezakan antara yang baik dan buruk.
Akibatnya kemungkaran dipandang sebagai ma’ruf. Lalu serigala umpamayna ditugaskan menjaga biri-biri, pengkhianat dibenarkan menjadi juru damai. Orang-orang yang besar dan keji hidup aman damai. Kebijaksaaan menipu dianggap sebagai kebijaksaan manakala kebijaksanaan itu sendiri dianggap sebagai kebodohan.Khazanah yang paling berharga iaitu kemanusiaan sendiri telah mengalami kehancuran.
Di tengah kepekatan jahiliyyah inilah di utuskan Rasulullah SAW untuk membimbing manusia untuk kembali kepada kemanusiaannya dan menjadi hamba kepada Khaliqnya. Baginda lalu berdakwah dan mendidik ummat dengan penuh kecintaan dan ketaatan kepada Allah, dengan penuh kasih sayang kepada manusia serta bersabar dan bersifat lemah lembut dengan segala tentangan, siksaan dan halangan.
Selama 13 tahun Baginda di Mekkah, penuh keazaman dan ketabahan hati, ia menjelaskan kepercayaan (keimanan) kepada Allah, Kerasulan dan hari kebangkitan. Baginda membangunkan ummat di atas dasar Aqidah yang benar dan mengembangkan dakwah ke segala penjuru alam. Hinggalah sampai kepada kita hari ini.
Kewajiban Mencintai Nabi Muhammad Saw
Terdapat retetan dari beberapa Hadith baginda Rasulullah saw berhubung dengan kecintaan kita kepada Rasulullah saw, antaranya:
a. Wajib mencintai Nabi SAW melebihi cintanya kepada diri sendiri.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam ra. bahwa dia berkata: “Kami pernah bersama Nabi SAW sementara bagindasedang memaut tanganbagida kepada tangan Umar bin al-Khatthab ra, maka Umar berkata kepada baginda: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku. Maka Nabi bersabda: Tidak, demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya! Hingga kamu lebih mencintai aku dari pada dirimu sendiri. Umar berkata kepadanya: Sesungguhnya sekarang engkau lebih aku cintai dari pada diriku sendiri. Nabi bersabda:”Sekarang wahai Umar.”
(Riwayat Bukhari)
b. Wajib mencintai Nabi melebihi cintanya kepada ibubapa dan anak.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Demi zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah di katakan kamu beriman sehingga aku lebih dicintai dari pada ibubapa nya dan anak-anaknya.” (Riwayat Bukhari)
c. Wajib mencintai Nabi melebihi cintanya kepada keluarga, harta dan seluruh manusia.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang hamba beriman sehingga aku lebih dicintai kepadanya dari pada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia.”
(Riwayat Bukhari)
Manakala Allah swt berfirman menerusi Surah at-Taubah ayat 24 yang bermaksud:
Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul- Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Imam Al Hafidz Ibnu Kathir berkata dalam menafsirkan ayat di atas: Apabila semua perkara dan urusan di atas lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah maka tunggulah datangnya bencana dan azab dari Allah yang akan menimpa kamu semua.
(Mukhtashar Ibnu katsir-Syekh Nasib Ar Rifa’I)
Nilai Cinta Rasul
Bagi yang mencintai Rasulullah akan mendapatkan hasilnya baik didunia maupun diakhirat, di antaranya adalah;
1. Cinta kepada Nabi boleh mendatangkan manisnya iman.
Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Anas ra. bahwa Nabi bersabda: “Tiga perkara, barangsiapa yang berada di dalamnya maka ia akan mendapatkan manisnya iman; bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selainnya, bahwa ia mencintai seseorang dan tidak mencintai kecuali hanya karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekafiran seperti kebencian dia bila dilemparkan ke dalam api”.
(Muttafaqun alaih)
Ertinya manisnya iman sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama adalah merasakan lazatnya segala ketaatan dan sanggup pula menderita kerana agama serta mengutamakan itu dari pada seluruh hartabenda dunia.
(Fathul Bari 1/61)
2. Orang yang mencintai Nabi SAW akan tinggal bersamanya di akhirat.
Telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata: “Pernah seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw lalu bertanya: Wahai Rasulullah bilakah berlakunya kiamat? Baginda bersabda: Apa yang kamu persiapkan untuknya? Ia menjawab: cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya. Baginda bersabda: Engkau akan bersama orang yang kamu cintai. Anas berkata: Kami tidak bergembira setelah masuk Islam lebih daripada mendengar sabda baginda: Sesungguhnya kamu bersama orang yang kamu cintai.
Anas ra.berkata: Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar dengan harapan aku dapat berkumpul bersama mereka walaupun aku tidak beramal seperti mereka.
3. Tanda-Tanda Orang Yang Mencintai Nabi
Diantara tanda-tanda mencintai Nabi adalah yang dinyatakan Al Qadhi ‘Iyadh: Termasuk tanda mencintai Nabi adalah membela sunnahnya dan menegakkan syariatnya serta ingin bertemu dengannya. Maka untuk mewujudkannya ia akan mengerahkan jiwa dan harta kekayaannya. (Syarah Sahih Muslim –oleh Imam an-Nawawi)
Ibnu Hajar berkata: Termasuk tanda cinta kepada Nabi di atas adalah bahawa seandainya disuruh memilih di antara kehilangan dunia atau Rasulullah SAW kalau itu memungkinkan, maka ia lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan kesempatan untuk melihat baginda, ia merasa lebih berat kehilangan Rasul daripada kehilangan kenikmatan dunia, maka orang yang seperti itu telah mendapat sifat kecintaan di atas dan siapa yang tidak mampu berbuat demikian maka tidak berhak mendapat status dari buah cinta itu. Yang demikian itu tidak hanya terbatas pada persoalan cinta belaka, bahkan membela sunnah dan menegakkan syariat serta melawan para penentang-penentangnya termasuk amar ma’ruf dan nahi mungkar.
(Fathul Bari)
Disusun oleh
Ustaz Haji Mohd Isa bin Haji Abdul Rahman
Penolong Pegawai Penyelidik
Jabatan Mufti Negeri Kedah Darul aman