Disusun oleh :
Ustaz Hj Mohd. Isa Hj. Abd Rahman
Penolong Pegawai Penyelidik
Jabatan Mufti Negeri Kedah
Orang yang beriman dengan Allah serta yakin dengan sebenar-benarnya terhadap kekuasaanNya dan keagunganNya akan berpegang dan terpasak di dalam hati sanubari mereka terhadap kebenaran firman Allah:
“Jikalau penduduk negeri-negeriberiman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi merekamendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (Al A’raaf: 96)
Ibnu Kathir menjelaskan ayat di atas dengan menjelaskan:
“Seandainya hati mereka beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul, meyakini dan mengikutinya, dan mereka bertakwa kepada Allah dengan menjalankan keta’atan dan meninggalkan yang diharamkan, niscaya akan turun hujan dari langit yang menumbuhkan berbagai tanaman di bumi. Tetapi mereka mendustakan para rasul itu, sehingga Allah menyiksa mereka dengan kehancuran disebabkan oleh berbagai dosa dan perbuatan haram yang mereka lakukan”.
Marilah kita renungi dengan insaf dan jujur kaitan segala musibah ini dengan rentetan-rentetan berbagai perilaku dan karenah hidup manusia di zaman maju ini. Adakah musibah ini merupakan harga yang perlu dibayar oleh umat moden di atas kemajuan dan kejayaan material yang di bangunkan selama ini yang bercampur aduk dengan perkara haram dan maksiat dan yang halal dan barakat?
Suatu perkara yang amat kita takuti ialah fenomena-fenomena musibah ini adalah pengulangan sejarah kaum yang pernah dikisahkan di dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah yang bermaksud:
“Apakah mereka tidak memper-hatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, iaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka kerana dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (Al-An’aam: 6)
Oleh itu, sama-samalah kita kembali kepada tatacara hidup seperti yang dituntut oleh Islam, semoga kehidupan kita akan dirahmati keamanan dari dunia hingga ke akhirat.
Dari sini kita yakin, berbagai musibah yang akhir-akhir ini mendera kita secara umum adalah karena perbuatan kita sendiri; kerana kealpaan dan kelalaian, keserakahan dan dosa-dosa kita. Seperti firman Allah yang bermaksud:
“Dan apa saja yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syuura: 30)
Tidak dinafikan bahawa, yang terlibat sama dengan musibah itu masih banyak di antaranya adalah orang-orang beriman. Tetapi itulah kehendak Allah. Dalam al- Quran Allah berfirman yang bermaksud:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahawa Allah amat keras siksaanNya.” (Al Anfaal: 25)
Dalam ayat di atas Allah memperingatkan hamba-hambaNya yang beriman dari musibah yang tidak saja bakal menimpa para pelaku maksiat atau dosa, tetapi menimpa manusia secara umum. Ketika terjadi kekacauan politik di zaman pemerintahan Sayyidina Ali Radhiallahu Anhu, Muthrif berkata kepada Zubair: “Wahai Abu Abdillah, apa yang terjadi dengan kamu? Kamu telah menyia-nyiakan khalifah yang terbunuh kemudian kamu mencari siapa pembunuhnya?” Zubair kemudian menjawab: “Sesungguhnya kami pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan pada zaman Abu Bakar serta Umar Radhiallahu Anhuma membaca ayat:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.” Kami tidak mengira bahawa kami termasuk di dalamnya, sehingga terjadilah pada kami apa yang terjadi (fitnah politik).”
(HR. Al-Bazzar, tafsir Ibnu Katsir, 2/331)
Tugas Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Orang yang beriman dan senantiasa berbuat amal shalih, tidaklah cukup keimanan dan kesalihan itu untuk dirinya sendiri. Sebab ia adalah salah satu anggota masyarakat yang harus bertanggung jawab terhadap kebaikan persekitaran sosial dan masyarakatnya. Persekitaran sosial ini salah satunya harus ia wujudkan dalam bentuk amar ma’ruf nahi mungkar, sebagaimana dianjurkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Siapa di antaramu melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangan (kekuasaan)nya. Jika tidak mampu maka hendaklah ia mengubah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Tugas amar ma’ruf nahi mungkar berdasarkan firman Allah:
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Hukumnya adalah fardhu kifayah, tetapi bila tidak ada walau seorangpun yang menunaikannya, terutama soal nahi mungkar di tengah berbagai kemungkaran yang nyata, maka semua menjadi berdosa. Dan salah satu hukumannya adalah berupa siksaan yang ditimpakan kepada seluruh umat manusia secara umum, orang yang baik mahupun yang buruk. Demikianlah sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma tentang tafsir ayat “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu saja.” Beliau mengatakan:
“Allah memerintahkan orang-orang beriman agar tidak mengakui dan mendiamkan kemungkaran yang terjadi di tengah-tengah mereka, sehingga ditakutkan siksa akan ditimpakan kepada mereka secara umum”. (Ibnu Katsir, 2/331)
Sikap yang perlu diambil
Dalam menghadapi berbagai musibah yang sering menimpa umat di akhir-akhir ini, marilah kita umat Islam berusaha melakukan beberapa perkara seperti berikut:
1.Sabar atas ujian yang menimpa kita dengan meyakini sepenuhnya bahawa apa yang terjadi itulah kehendak Allah. Mudah-mudahan dengan demikian kita termasuk yang dimaksud ayat:
“Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Iaitu mereka yang bila ditimpa musibah berkata, sesungguhnya kami dari Allah, dan sesungguhnya kami akan kembali kepadaNya.” (Al-Baqarah: 155-156)
2.Muhasabah diri, dengan berjanji mengerjakan semua perintah Allah dan meninggalkan dosa-dosa dan kemungkaran yang dahulu pernah kita kerjakan.
3.Merealisasikan kembali amar ma’ruf nahi mungkar. Hendaknya kita tidak membiarkan kemaksiatan sekecil apapun terjadi di sekeliling kita, apatah lagi kejahatan besar yang nampak jelas di pelupuk mata kita. Jangan pula melakukan sebaliknya, menghalangi orang berbuat kebaikan dan membantu perbuatan haram.
4.Sentiasa ingat kepada Allah, baik di waktu kita berjaya mahupun saat ditimpa musibah. Jangan seperti orang-orang musyrik yang hanya ingat kepada Allah saat ditimpa musibah dan melupakanNya saat sukses dan berjaya.
Oleh itu, sama-samalah kita kembali kepada tatacara hidup seperti yang dituntut oleh Islam, semoga kehidupan kita akan dirahmati keamanan dari dunia hingga ke akhirat.